Benarkah Wanita Lebih Memilih yang Kaya Dibanding Penampilan?

Benarkah Wanita Lebih Memilih yang Kaya Dibanding Penampilan?
Benarkah_Wanita_Lebih_Memilih_yang_Kaya_Dibanding_Penampilan

LIGAPEDIA.news – Banyak anggapan bahwa wanita cenderung memiliki pria karena latar belakang kekayaan dibanding penampilan. Namun, anggapan ini masih perlu dibuktikan melalui berbagai penelitian dan pendekatan.

Profesor psikologi di Georgia Gwinnett College, David Ludden, PhD, menjelaskan salah satu temuan paling kuat dalam psikologi evolusioner yakni pengamatan bahwa pria dan wanita memiliki perbedaan dalam karakteristik yang mereka sukai dari calon pasangannya.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan penelitian demi penelitian, di berbagai negara, para psikolog secara konsisten menemukan bahwa pria lebih memilih penampilan daripada sumber daya. Sementara perempuan lebih menghargai sumber daya daripada penampilan.

Teori Preferensi Pasangan

Menurut Ludden, dalam sudut pandang psikologi terdapat sebuah teori preferensi berevolusi. Penjelasannya kira-kira seperti ini:

“Pria mencari wanita yang sehat dan subur yang akan menghasilkan keturunan berkualitas tinggi bagi mereka. Karena kesuburan wanita meningkat pada akhir usia remaja dan mencapai puncaknya pada pertengahan usia dua puluhan, pria lebih memilih pasangan pada rentang usia tersebut.”

“Selain itu, karakteristik kecantikan feminin, seperti kulit bersih dan rambut berkilau adalah tanda-tanda lain yang baik. Jadi wajar saja jika pria menganggap hal-hal tersebut menarik.”

Namun, teori ini sangat tidak seimbang, karena membuat wanita secara alami berada pada posisi yang dirugikan dalam hal memperoleh sumber daya. Wanita dianggap secara fisik lebih lemah dibandingkan pria dan mobilitas mereka terhambat karena kehamilan dan membesarkan anak.

Jadi dalam teori tersebut, wanita bergantung pada pria untuk menafkahi mereka dan anak-anak mereka. Itulah sebabnya wanita lebih menghargai sumber daya daripada penampilan calon pasangan.

Padahal, sejak puluhan ribu tahun saat manusia beralih ke kehidupan pertanian, pria dan wanita telah memiliki peran masing-masing yang tidak bisa dikategorikan menjadi dua hal saja.

Teori evolusi dalam sejarah manusia, dengan jelas mengungkapkan bahwa wanita tidak bergantung pada pria untuk menafkahi mereka.

“Itu berarti tidak boleh ada evolusi preferensi wanita yang memilih pria karena sumber daya dibandingkan penampilan menarik. Selain itu, (pada zaman pertanian awal) apa pun yang diperoleh dari tanah dibagikan kepada kelompok tersebut, sehingga tidak ada perbedaan antara pria kaya dan miskin,” papar Ludden, sebagaimana dikutip dari Psychology Today.

Jadi menurut sejarah, yang dianggap menarik bagi wanita adalah pria yang menjadi pemburu lebih baik daripada yang lain. Mereka yang sering membawa pulang daging mempunyai prestise sosial yang tinggi.

Adapun ciri-ciri pria yang menjadi pemburu yang baik antara lain ukuran besar, otot-otot yang kencang, tubuh bagian atas yang kuat.

“Jika wanita sudah berevolusi dalam memilih pasangan, maka pilihannya adalah pada pria tersebut dan itulah yang mereka cari saat mencari pasangan jangka pendek,” terang Ludden lebih lanjut.

Sementara itu, psikolog Alice Eagly dan Wendy Wood mengajukan teori peran sosial dua dekade lalu untuk menjelaskan perbedaan jenis kelamin yang diamati dalam preferensi pasangan.

Menurut teori peran sosial, preferensi wanita terhadap sumber daya dibandingkan penampilan merupakan respons terhadap organisasi sosial saat ini dan bukan produk evolusi masa lalu.

Pada akhir abad kedua puluh, wanita membuat kemajuan besar dalam mendapatkan kembali kesetaraan gender yang hilang sejak munculnya pertanian.

Artinya, dalam budaya di mana wanita memiliki lebih banyak kebebasan ekonomi dan politik, mereka kurang menekankan pada sumber daya dan lebih mementingkan penampilan ketika mempertimbangkan calon pasangan.

“Yang pasti, mereka tetap menghargai sumber daya dibandingkan penampilan, tapi perbedaan antara keduanya tidak terlalu besar. Karena keterbatasan data dan pertanyaan mengenai penggunaan metode statistik,” tutur Eagly dan Wood, menyimpulkan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *