Kenapa Setelah Berhenti Merokok Bisa Jadi Gemuk?

Kenapa Setelah Berhenti Merokok Bisa Jadi Gemuk?
Kenapa_Setelah_Berhenti_Merokok_Bisa_Jadi_Gemuk

LIGAPEDIA.news – Kebanyakan orang menjadi gemuk setelah berhenti merokok dan ini yang sering dikhawatirkan para perokok.

Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkap kemungkinan penjelasan atas kejadian itu.

Bacaan Lainnya

Menurut hasil penelitian yang dipresentasikan pada Kongres Obesitas Eropa tahun ini, perokok cenderung makan lebih sedikit dan mempertahankan kebiasaan makan yang tidak sehat dibandingkan dengan bukan perokok.

Itu merupakan kesimpulan yang didapat dari mengevaluasi data lebih dari 80.000 orang dewasa di Inggris. Kemudian, ditulis dalam jurnal yang diterbitkan di BMC Public Health.

“Berhenti merokok tidak diragukan lagi merupakan langkah positif bagi kesehatan secara keseluruhan, tetapi hal ini dapat menimbulkan tantangan terkait pola makan,” tulis para peneliti dalam jurnal tersebut.

Para peneliti menjelaskan bahwa nikotin memiliki sifat yang bisa menekan nafsu makan dan meningkatkan metabolisme, sehingga dapat membantu perokok dalam mengendalikan berat badan.

Namun, berhenti merokok sering kali mengakibatkan peningkatan nafsu makan dan keinginan mengidam, sehingga berpotensi menyebabkan penambahan berat badan. Peserta dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan statusnya sebagai perokok atau bukan perokok.

Usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, status merokok, kebiasaan makan, dan perilaku makan diidentifikasi berdasarkan jawaban kuesioner.

Indeks massa tubuh (body mass index/BMI) peserta diukur selama penilaian kesehatan.
Hasilnya menunjukkan beberapa fakta menarik mengenai kebiasaan makan para perokok dibandingkan bukan perokok sebagai berikut:

  1. Perokok dua kali lebih mungkin melewatkan waktu makan
  2. Mereka 35 persen lebih kecil kemungkinannya untuk ngemil di antara waktu makan dan biasanya tidak mengonsumsi makanan sebagai penghargaan diri atau karena bosan, dibandingkan dengan mereka yang bukan perokok
  3. Mereka 50 persen lebih mungkin bertahan lebih dari tiga jam tanpa makanan
  4. Mereka cenderung makan lebih sedikit setiap harinya

Mereka 8 persen lebih cenderung mengonsumsi gorengan, 70 persen lebih cenderung menambahkan garam, dan 36 persen lebih cenderung menambahkan gula pada makanannya.
Para peneliti mencatat bahwa hubungan ini lebih kuat pada individu yang lebih tua dibandingkan dengan orang dewasa yang lebih muda.

Kemungkinan penambahan garam dan gula pada makanan lebih besar terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan, sehingga perokok laki-laki lebih rentan terhadap kebiasaan makan yang buruk.

Kepala peneliti Dr Scott Willis mengatakan, kekhawatiran akan penambahan berat badan adalah alasan umum bagi perokok untuk tidak berusaha berhenti atau tidak berhasil dalam upaya berhenti merokok.

“Temuan kami menunjukkan bahwa merokok dikaitkan dengan pola perilaku makan yang konsisten dengan berkurangnya asupan makanan dan kualitas makanan yang lebih buruk, yang ditandai dengan seringnya merokok, makan makanan yang digoreng, dan penambahan garam serta gula ke dalam makanan,” ujar Willis.

Hal tersebut bisa membantu menjelaskan kenaikan berat badan yang biasa diamati ketika orang berhenti merokok. Para peneliti mengatakan hasil ini memerlukan bantuan nutrisi dan manajemen berat badan yang lebih baik bagi mereka yang berusaha berhenti merokok.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *