ArtisBerita PopulerHiburan

Agnez Mo dan Pelayanan Publik Kita

LIGAPEDIA.NEWS – Dunia maya dihebohkan oleh sebuah peristiwa di Kantor Lurah Kedoya Utara, Kecamatan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Kehebohan yang terjadi melibatkan selebritas terkenal, Agnez Mo. Dia memicu kontroversi karena pilihan pakaian yang dikenakan saat mengurus dokumen kependudukan berupa KTP Elektronik. Dalam kesempatan tersebut, dia mengenakan kemeja jins bermerek Balenciaga seharga 14 jutaan rupiah dan celana pendek hitam.

Hal itu tampak dalam posting-an media sosial Instagram Pemerintah Kota Jakarta Barat dengan akun @kotajakartabarat yang diunggah pada Selasa (29/8). Tak ayal, memicu beragam reaksi warganet (netizen) untuk bersuara dalam proses pelayanan kependudukan yang dianggap “suka-suka”.

Menurut pendapat sebagian warganet, Agnez Mo mengenakan pakaian yang “tidak sopan” untuk kunjungannya ke Kantor Lurah Kedoya Utara. Warganet merasa bahwa setelan yang dia kenakan, khususnya celana pendek hitamnya, tidak sesuai dengan tata tertib yang berlaku di kantor lurah. Pegawai kantor lurah dituding melakukan layanan “suka-suka” dengan memberikan pelayanan.

Agnez Mo seharusnya tidak mendapatkan pelayanan atau diminta untuk pulang dan mengganti pakaian sebelum mendapatkan pelayanan. Pendapat ini didasarkan pada pengalaman dan keyakinan warganet bahwa ada aturan tertentu mengenai pakaian yang harus diikuti oleh setiap pemohon layanan publik ketika datang dan berurusan ke kantor lurah.

Tidak Ada Standar

Sebenarnya, aturan tentang pakaian yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan pada kantor pemerintah, khususnya kantor lurah, dapat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Perlu diketahui bahwa tidak ada standar berlaku nasional yang mengatur pakaian apa yang boleh atau tidak boleh dikenakan oleh pemohon layanan publik saat mengurus dokumen kependudukan.

Hal ini sepenuhnya tergantung pada kebijakan atau peraturan internal masing-masing kantor lurah yang biasanya dituangkan dalam bentuk tata tertib. Oleh karena itu, tudingan terhadap petugas layanan pada Kantor Lurah Kedoya Utara perlu disampaikan dengan hati-hati, karena apa yang mungkin tidak dibolehkan bahkan dianggap tidak sopan di satu tempat, mungkin boleh dan dianggap biasa di tempat lain.

Ini membawa kita pada pertanyaan tentang batasan-batasan kebebasan individu dalam berpakaian, tentang sejauh mana seorang warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pakaian saat mengurus urusan kependudukan. Tentu saat mengulas tentang kebebasan berpakaian, memang penting untuk mempertimbangkan nilai-nilai masyarakat dan budaya setempat, sebagaimana peribahasa Indonesia yaitu “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

Terdapat nilai-nilai masyarakat dan budaya setempat yang harus dijunjung tinggi oleh setiap warga negara, termasuk saat mengunjungi kantor lurah. Ini mencakup pakaian sopan saat melakukan proses administrasi kependudukan yang serius. Di sisi lain, peristiwa yang melibatkan Agnez Mo juga mengingatkan kita bahwa tidak ada perlakuan khusus, bahkan bagi selebritas.

Sebagai warga negara Indonesia, Agnez Mo harus mengikuti prosedur standar yang sama seperti warga negara lain pada umumnya ketika melakukan perekaman KTP elektronik. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah setempat atau kantor lurah berusaha menjalankan pelayanan kependudukan dengan adil dan merata untuk semua warga negara tanpa memandang status sosial atau selebriti.

Peristiwa ini sebenarnya adalah contoh dari kantor lurah yang mengingatkan kita bahwa proses layanan kependudukan harus dilakukan dengan asas-asas pelayanan publik yang baik. Meskipun aturan-aturan tentang pakaian dapat bervariasi, asas-asas pelayanan publik seperti persamaan perlakuan dalam pelayanan administrasi kependudukan harus selalu dijunjung tinggi.

Peristiwa yang melibatkan Agnez Mo di Kantor Lurah Kedoya Utara mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan individu dalam berpakaian dan menjaga etika dalam proses administrasi kependudukan.

Kita tidak boleh mengabaikan nilai-nilai budaya dan norma-norma yang menjadi bagian dari masyarakat kita. Tetapi, kita juga pantang menuding layanan “suka-suka” sekadar berdasarkan pengalaman dan keyakinan karena memang aturan-aturan tentang pakaian dapat bervariasi. Sebelum menilai layanan publik, kita harus memastikan bahwa ada standar yang jelas dan berlaku nasional untuk menghindari kebingungan atau tudingan serupa di masa depan.

Hal ini juga merupakan pengingat bahwa semua warga negara, termasuk selebritas, harus mengikuti prosedur standar ketika mengurus dokumen kependudukan, menunjukkan bahwa pemerintah khususnya kantor lurah berusaha untuk menjalankan pelayanan kependudukan dengan adil dan merata untuk semua warga negara. Semua ini adalah langkah-langkah positif menuju masyarakat dan pelayanan publik yang lebih baik.

 

 

Sumber : Detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *