Pelatih Bali United Ajak Suporter Stop Rasisme di Sepak Bola BRI Liga 1

Dunia sepak bola selalu menawarkan drama yang tak terduga, tetapi terkadang itu bukan hanya tentang siapa yang mencetak gol atau siapa yang memenangkan pertandingan. Pekan ke-11 BRI Liga 1 2023/2024 menyuguhkan momen yang mencoreng keindahan permainan ini.

LIGAPEDIA.NEWS – Dunia sepak bola selalu menawarkan drama yang tak terduga, tetapi terkadang itu bukan hanya tentang siapa yang mencetak gol atau siapa yang memenangkan pertandingan. Pekan ke-11 BRI Liga 1 2023/2024 menyuguhkan momen yang mencoreng keindahan permainan ini. Bek Persebaya Surabaya, Yohanes Kandaimu, menjadi korban perilaku rasisme, mengingatkan kita bahwa ada isu yang lebih mendalam daripada skor akhir.

Saat itulah, Persebaya berhasil menang 2-1. Namun, satu gol yang dicetak Pesut Etam ternyata adalah hasil dari gol bunuh diri Yohanes Kandaimu pada menit ke-45. Sementara itu, dua gol Persebaya yang dicetak Bruno Moreira pada menit ke-22 dan Ze Valente pada menit ke-72, tampaknya terlupakan di tengah kontroversi ini.

Bacaan Lainnya

Ketika tragedi gol bunuh diri terjadi, Yohanes Kandaimu tidak hanya harus menghadapi kesalahan pribadinya, tetapi juga menjadi target cemoohan yang kejam dari suporter. Momen ini kemudian terungkap dalam berbagai video yang beredar saat jeda antar babak, menunjukkan sejauh mana rasisme meracuni atmosfer sepak bola kita.

Setelah pertandingan selesai, media sosial juga menjadi panggung bagi perilaku yang tidak pantas. Akun Instagram @r_verde12 menuliskan komentar berbau rasisme yang membuat suporter Persebaya, Bonek, memberikan kecaman keras. Kapten Persebaya Surabaya, Reva Adi Utama, pun ikut merespons di Instagram, mempertahankan rekan setimnya. Tidak berlangsung lama, suporter yang menciptakan kontroversi tersebut akhirnya bertemu langsung dengan Yohanes Kandaimu dan perwakilan pemain Persebaya, menciptakan titik terang di tengah kegelapan.

Mengingat Tragedi Rachmat Irianto

Peristiwa ini tidak bisa kita lewatkan tanpa mengingat insiden Rachmat Irianto, yang pada tahun lalu juga menjadi sasaran kritikan dan teror. Akibatnya, ia memutuskan untuk meninggalkan klubnya, Persib Bandung. Semua ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana pentingnya bermedia sosial secara bijak dan memberikan kritik yang membangun daripada merusak.

Namun, tanggapan terhadap rasisme tidak hanya datang dari pihak yang terkena dampak. Pelatih Bali United, Stefano Cugurra, atau yang akrab disapa Teco, menunjukkan sikap yang kuat. Ia mengambil kesempatan untuk mengingatkan semua orang bahwa rasisme adalah masalah yang tidak boleh disepelekan di dunia sepak bola Indonesia.

Respons Dari Teco

Teco dengan tegas menyatakan bahwa tindakan suporter yang tidak pantas ini sudah melampaui batas. Pelatih Bali United menekankan bahwa mengkritik tidak sama dengan mencemooh dan melakukan tindakan rasisme. Isu rasisme di sepak bola Indonesia bukanlah hal baru dan tidak boleh menjadi kebiasaan. Teco mengingatkan kita semua untuk tidak melupakan peristiwa serupa yang terjadi di Malang musim lalu.

Tetap Bersikap Bijaksana

Pelatih ini juga mengajak semua suporter, tanpa terkecuali, untuk bersikap bijak dalam menyikapi segala sesuatu. Dalam dunia yang penuh emosi seperti sepak bola, suporter harus dapat menikmati pertandingan dengan sportivitas. Setelah pertandingan berakhir, saatnya untuk pulang ke rumah dengan damai dan selamat, tanpa meninggalkan jejak rasisme di belakang.

Dalam momen yang penuh kontroversi ini, mari kita bersama-sama menjadikan sepak bola sebagai wahana untuk mempersatukan, bukan memisahkan. Rasisme adalah musuh bersama kita, dan dengan bersama-sama, kita dapat mengatasi tantangan ini dan membangun komunitas sepak bola yang lebih inklusif dan harmonis.

Sumber : Redaksi Harian Ligapedia.News

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *