Punya UU Bebas Rokok, Singapura Bisa Cegah 20 Ribu Serangan Jantung

Punya UU Bebas Rokok, Singapura Bisa Cegah 20 Ribu Serangan Jantung
Punya UU Bebas Rokok, Singapura Bisa Cegah 20 Ribu Serangan Jantung

LIGAPEDIA.news – Selama ini paparan rokok menjadi tantangan bagi banyak negara di Asia, salah satunya Singapura. Berbagai cara dilakukan termasuk membuat undang-undang bebas rokok. Apakah berpengaruh?

Diketahui, paparan perokok pasif telah bertanggung jawab atas 1,3 juta kematian setiap tahunnya di seluruh dunia, dan sebagian besar disebabkan oleh serangan jantung.

Read More

Atas dasar ini, Singapura kemudian membuat aturan bebas rokok. Hasilnya, selama puluhan tahun, aturan tersebut telah menunjukkan hasil yang positif.

Dampak UU Bebas Rokok terhadap Penurunan Serangan Jantung

Untuk mengetahui dampak undang-undang bebas rokok di Singapura, sebuah penelitian telah dilakukan dan hasilnya dipublikasikan di jurnal akses terbuka BMJ Global Health.

Penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Duke-NUS Medical School (National University of Singapore), menunjukkan bahwa perpanjangan larangan merokok di Singapura dikaitkan dengan penurunan rata-rata serangan jantung setiap bulannya.

Dalam hal ini, orang-orang berusia lanjut dan laki-lakilah yang paling merasakan manfaat dari undang-undang tersebut.

Bahkan, penelitian menyebut, perpanjangan larangan merokok di area komunal di blok perumahan dan ruang luar ruangan lainnya di Singapura pada tahun 2013, telah mencegah hingga 20.000 serangan jantung di antara mereka yang berusia 65 tahun ke atas.

“Warga kemungkinan besar akan sering mengunjungi area umum di kawasan perumahan sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari atau saat bertemu dengan teman dan tetangga,” kata Dr Joel Aik, Asisten Profesor dari Program Penelitian Layanan & Sistem Kesehatan di Duke-NUS dan penulis senior penelitian ini, dikutip dari laman resmi NUS.

“Jika ada perokok di sekitarnya, bisa saja warga tersebut terpapar asap tembakau. Larangan merokok di daerah-daerah ini akan mengurangi paparan asap rokok dan akibatnya mengurangi risiko serangan jantung,” tambahnya.

Perluasan UU Bebas Rokok Sejak 2013

Diketahui, sejak tahun 2013, Singapura telah memperluas undang-undang bebas rokok ke seluruh kawasan komunal di blok pemukiman, tempat 80 persen penduduknya tinggal, serta ruang luar ruangan, termasuk jalan tertutup, jembatan layang, dan dalam jarak 5 meter dari halte bus.

Hal ini selanjutnya diperluas ke waduk dan seluruh taman pemukiman pada tahun 2016, dan ke lebih banyak institusi pendidikan serta lebih banyak jenis bus dan taksi pada tahun 2017.

Analisis Dampak UU Bebas Rokok dari 2010-2019
Para peneliti menganalisis laporan bulanan dari Singapore Myocardial Infarction Registry dalam periode Januari 2010 hingga Desember 2019, untuk menilai dampak berbagai undang-undang terhadap tingkat serangan jantung.

Selama periode tersebut, total ada 133.868 serangan jantung dilaporkan, di mana 87.763 (66 persen) di antaranya dilaporkan terjadi pada laki-laki dan 80.597 (60 persen) di antaranya terjadi pada mereka yang berusia 65 tahun ke atas.

Sebelum perpanjangan tahun 2013, angka serangan jantung di antara mereka yang berusia 65 tahun ke atas adalah sekitar 10 kali lipat dibandingkan mereka yang berusia di bawah 65 tahun.

Tingkat kasus di kalangan laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan perempuan. Adapun untuk jumlah keseluruhan serangan jantung meningkat sebesar 0,9 kasus per juta orang setiap bulan sebelum perpanjangan tahun 2013. Namun setelah perpanjangan Undang-undang tahun 2013, angka ini turun menjadi 0,6 kasus per juta orang.

Penurunan bulanan angka serangan jantung di antara mereka yang berusia 65 tahun ke atas adalah 5,9 kasus per satu juta orang. Penurunan angka ini hampir 15 kali lebih besar dibandingkan pada individu berusia lebih muda, yang mencapai 0,4 kasus per satu juta orang.

Konsistensi dalam temuan ini menunjukkan bahwa larangan tersebut mungkin bermanfaat meskipun diperlukan lebih banyak penelitian untuk memvalidasi hal ini.

Profesor Patrick Tan, Wakil Dekan Senior bidang Penelitian di Duke-NUS, mengatakan, saat ini merokok masih menjadi epidemi yang belum terselesaikan di Asia, dengan mayoritas konsumen tembakau berada di wilayah tersebut.

“Studi ini memberikan bukti tambahan bagi para pembuat kebijakan yang ingin memperluas undang-undang bebas rokok untuk memitigasi dampak buruk paparan asap tembakau dan mengurangi beban kesehatan akibat penyakit jantung bagi penduduknya,” tutur Tan.

Sumber : detik.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *